MAKASSAR — Kebijakan manajemen Indomaret kembali menuai sorotan tajam. Perusahaan ritel nasional tersebut dinilai lebih memilih kehilangan omzet dan membiarkan pelanggan beralih ke kompetitor seperti Alfamart dan Alfa Midi daripada memenuhi hak karyawan berupa pembayaran upah lembur pada hari libur nasional.
Pernyataan itu disampaikan Rizal, Sekretaris Jenderal Zona Merah Sulawesi Selatan, menanggapi gelombang aksi perlawanan karyawan Indomaret yang terus meluas di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
“Kalau benar manajemen lebih memilih toko tutup dan omzet hilang daripada membayar lembur sesuai aturan, ini merupakan keputusan yang sangat keliru dan berpotensi merugikan perusahaan sendiri,” tegas Rizal kepada awak media, Jumat (15/5/2026).
Menurut Rizal, sekitar 80 persen karyawan disebut telah sepakat untuk tidak masuk kerja pada hari libur nasional apabila hak-hak normatif mereka tidak dipenuhi. Sikap tersebut berpotensi menyebabkan banyak gerai Indomaret tidak beroperasi.
“Jika mayoritas karyawan tidak masuk kerja, toko bisa tutup total. Konsumen tentu akan beralih ke Alfamart atau Alfa Midi yang tetap buka. Ini bukan hanya soal hubungan industrial, tetapi juga menyangkut reputasi dan kepercayaan publik,” ujarnya.
Rizal menilai persoalan ini seharusnya dapat diselesaikan secara bijak melalui dialog dan kepatuhan terhadap ketentuan ketenagakerjaan. Ia mengingatkan bahwa pembayaran upah kerja pada hari libur nasional merupakan hak pekerja yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
“Perusahaan besar semestinya menjadi contoh dalam menaati aturan ketenagakerjaan, bukan justru menimbulkan polemik yang memicu aksi kolektif pekerja,” katanya.
Zona Merah Sulsel mendesak manajemen Indomaret untuk segera membuka ruang komunikasi dengan perwakilan karyawan dan menyelesaikan tuntutan secara transparan agar konflik tidak semakin meluas.
Jika tidak segera ditangani, Rizal menilai kebijakan tersebut dapat menjadi bumerang bagi perusahaan karena selain memicu penutupan gerai, juga berpotensi mendorong konsumen beralih permanen ke pesaing.
“Jangan sampai demi menghindari kewajiban membayar lembur, perusahaan justru kehilangan omzet, kepercayaan konsumen, dan loyalitas karyawan dalam jangka panjang,” tutup Rizal.

















