Maros – Sorotan tajam mengarah kepada Ketua Panitia Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi yang digelar di Kabupaten Maros. Desakan transparansi menguat, khususnya terkait penggunaan anggaran, sumber pendanaan, hingga sisa anggaran kegiatan tersebut.
Sekretaris Jenderal Zona Merah Sulsel, Rizal, menegaskan bahwa keterbukaan kepada publik adalah hal mutlak, apalagi kegiatan MTQ merupakan agenda besar yang menggunakan anggaran tidak sedikit dan bersumber dari keuangan negara maupun pihak terkait lainnya.
“Ketua panitia harus berani terbuka. Umumkan ke publik secara jelas penggunaan anggaran, dari mana sumbernya, dan berapa sisa anggaran. Kalau memang tidak ada masalah, silakan dibantahkan melalui ruang media,” tegas Rizal kepada awak media, Senin (28/4/2026).
Menurutnya, jika hingga saat ini belum ada penjelasan resmi yang disampaikan ke publik, maka wajar jika muncul dugaan dan kecurigaan dari masyarakat. Bahkan, kondisi tersebut dinilai dapat memperkuat sorotan dari sejumlah aktivis yang sebelumnya telah mempertanyakan pengelolaan anggaran MTQ di Maros.
“Kalau tidak ada transparansi, masyarakat tentu akan menduga ada sesuatu yang perlu diaudit secara menyeluruh. Ini bukan tuduhan, tapi bentuk kontrol publik agar tidak ada penyimpangan,” lanjutnya.
Polemik ini menambah daftar isu yang menuntut keterbukaan di wilayah Sulawesi Selatan. Publik kini menunggu sikap resmi dari panitia penyelenggara, apakah akan membuka data anggaran secara transparan atau justru membiarkan spekulasi terus berkembang.
Sejumlah pihak juga mulai mendorong agar instansi berwenang, termasuk lembaga pengawasan, turun tangan melakukan audit jika transparansi tidak segera dilakukan.

















